Kamis, 11 Januari 2018

HIDROPONIK TOMAT

LAPORAN KUNJUNGAN HIDROPONIK
HIDROPONIK TOMAT



Oleh :
Angga Kurniawan
163112500150011


FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2017



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Pembangunan pertanian yang berhasil dapat diartikan jika terjadi pertumbuhan sektor ekonomi yang tinggi dan sekaligus terjadi perubahan masyarakat dan taraf hidup yang kurang baik menjadi lebih baik. Hal ini terlihat dari peranan sektor pertanian terhadap penyediaan pangan, penyumbang devisa negara melalui ekspor dan lain sebagainya (Soekartawi, 1994).
            Salah satu tujuan utama pembangunan pertanian tanaman pangan adalah swasembada pangan. Kebijaksanaan swasembada pangan diperluas, tidak hanya bertumpu pada komoditas beras saja tetapi juga pada komoditas lain yang mengandung karbohidrat, protein, mineral dan vitamin seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan bunga-bungaan, seperti halnya komoditas tomat (Soekartawi, 1994).
            Buah tomat sebagai salah satu komoditas sayuran mempunyai prospek pemasaran yang cerah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya buah tomat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diantaranya adalah sebagai sumber vitamin. Buah tomat sangat baik untuk mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, seperti sariawan karena mengandung vitamin C. Selain sebagai buah segar yang langsung dapat konsumsi, buah tomat juga dapat digunakan sebagai bahan penyedap berbagai macam masakan seperti sop, gado-gado, sambal, dan juga dapat dijadikan bahan industri untuk dikonsumsi dalam bentuk olahan, misalnya untuk minuman sari buah tomat, es juice tomat, dan konsentrat. Berbagai macam kegunaan tersebut dapat memberikan keuntungan, baik bagi konsumen, produsen, maupun masyarakat pada umumnya.
            Potensi pasar buah tomat juga dapat dilihat dari segi harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga membuka peluang yang lebih besar terhadap serapan pasar (Cahyono,1998).
            Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara (2009), produksi tomat pada tahun 2011 sebanyak 3.009 ton dengan luas panen seluas 40 ha, sementara untuk Desa Lapandewa pada  tahun 2011 produksi tanaman tomat sebanyak 93,58 ton dengan luas panen sekitar 10,56 ha.
            Menurut (Soeharjo dan Patong 1994), pada beberapa daerah di Indonesia, petani belum mampu mengambil keputusan ekonomis yang menguntungkan. yang dimaksud adalah kemampuan petani dalam menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif mungkin agar produksi pertaniannya memberikan fungsi yang lebih baik dan lebih menguntungkan.
1.2 Tujuan
            Untuk mengetahui bagaimana budidaya tanaman tomat beef dan tomat ceri secara hidroponik.




BAB II
TINJUAN PUSTAKA

            Sistem hidroponik substrat merupakan metode budidaya tanaman dimanaakar tanaman tumbuh pada media porous selain tanah yang di aliri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup. Pemberian nutrisi pada tanaman dapat diberikan melalui substrat yang akan diserap oleh akar tanaman. Larutan nutrisi dibuat dengan cara melarutkan garam mineral kedalam air. Ketika dilarutkan dalam air, garam mineral ini akan memisahkan diri menjadi ion.
            Persyaratan dalam hidoponik substrat yaitu media yang digunakan sebagai tempat tumbuh tanaman harus memiliki kemampuan yang cukup untuk menahan air, kemampuan dalam menahan kelembaban yang ada di sekitar akar, serta memiliki yang cukup untuk mencegah kegenangan air. Adanya kegenangan pada media dapat merusak akar tanaman yang dibudidayakan menjadi busuk dan akibatnya mati (Parksand Murray, 2011).
            Penggunaan media tanam harus diperhatikan dalam budidaya hidroponik, karena media tanam merupakan bahan yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang akan di budidayakan. Media yang digunakan pada budidaya hidroponik bermacam-macam mulai dari bahan organik sampai dengan bahan anorganik. Penggunaan arang sekam dalam budidya hidroponik memiliki kelebihan. Kelebihan dari arang sekam yaitu bersifat steril, memiliki kemampuan membawa air, dan memiliki kemampuan dalam hal hasil yang diperoleh dari tanaman hidroponik, yaitu hasil yang lebih baik dan juga produk yang sehat. Hasil dari tanaman hidroponik juga memiliki kualitas yang tinggi dan dapat ditanam tanpa melihat musim karena di tanam pada green house (Silviana, dkk dalam Marlina, 2015).
            Penggunaan media dengan memanfaatkan media organik yaitu untuk menyeimbangkan nutrisi yang tersedia dari unsur hara yang tersedia didalam air. Penggunaan media dengan menggunakan bahan organik yaitu dapat menyediakan nutrisi tingkat tinggi. Media organik yang digunakan jika telah kering, menunjukkan bahwa unsur hara yang tersedia diserap oleh tanaman. 100% mineral yang diasumsikan dapat diambil oleh tanaman (Smith et al Ferguson, 2014).
            Media dalam penggunaan budidaya hidroponik tidak hanya arang sekam melainkan cocopeat dan serbuk gergaji juga dapat digunakan sebagai media tanam. Menfaat dari penggunaan media cocopeat ini hampir sama dengan manfaat arang sekam. Perbedaannya terletak pada manfaat hasil yang diperoleh. Kapasitas air yang ditahan oleh cocopeat dalam penggunan media cukup tinggi. Cocopeat dapat mengikat dan menyimpan air dalam jumlah yang besar dan kuat, karena cocopeat memiliki pori mikro yang mampu menghambat gerakan air lebih besar yang bekerja didalam media (Istomo dan Valentino dalam Irawan, 2015).



BAB III
PEMBAHASAN

           Pertanian hidroponik tomat yang dikembangkan menggunakan sistem fertigasi atau irigasi tetes. Saat kami berkunjung ke kebun pak dedi sudah lewat panen. Total tanaman yang kami kunjungi ada 20.000 tanaman dengan total pegawai 10 orang. Penampung nutrisi yang digunakan untuk menyiram tanaman tomat terdiri dari 3 tendon air yang masing - masing berkapasitas 3000 liter. Dari 3000 liter in pak Dedi menambahkan 10 liter pekatan larutan A dan B.






BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
          Persyaratan dalam hidoponik substrat yaitu media yang digunakan sebagai tempat tumbuh tanaman harus memiliki kemampuan yang cukup untuk menahan air, kemampuan dalam menahan kelembaban yang ada di sekitar akar, serta memiliki yang cukup untuk mencegah kegenangan air. Adanya kegenangan pada media dapat merusak akar tanaman yang dibudidayakan menjadi busuk dan akibatnya mati (Parksand Murray, 2011).
            Penggunaan media tanam harus diperhatikan dalam budidaya hidroponik, karena media tanam merupakan bahan yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang akan di budidayakan. Media yang digunakan pada budidaya hidroponik bermacam-macam mulai dari bahan organik sampai dengan bahan anorganik. Penggunaan arang sekam dalam budidya hidroponik memiliki kelebihan. Kelebihan dari arang sekam yaitu bersifat steril, memiliki kemampuan membawa air, dan memiliki kemampuan dalam hal hasil yang diperoleh dari tanaman hidroponik, yaitu hasil yang lebih baik dan juga produk yang sehat. Hasil dari tanaman hidroponik juga memiliki kualitas yang tinggi dan dapat ditanam tanpa melihat musim karena di tanam pada green house (Silviana, dkk dalam Marlina, 2015).
            Penggunaan media dengan memanfaatkan media organik yaitu untuk menyeimbangkan nutrisi yang tersedia dari unsur hara yang tersedia didalam air. Penggunaan media dengan menggunakan bahan organik yaitu dapat menyediakan nutrisi tingkat tinggi. Media organik yang digunakan jika telah kering, menunjukkan bahwa unsur hara yang tersedia diserap oleh tanaman. 100% mineral yang diasumsikan dapat diambil oleh tanaman (Smith et al Ferguson, 2014).

1 komentar: