LAPORAN KUNJUNGAN
HIDROPONIK
HIDROPONIK TOMAT
Oleh
:
Angga
Kurniawan
163112500150011
FAKULTAS
PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
UNIVERSITAS
NASIONAL
JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan pertanian yang berhasil dapat diartikan jika terjadi
pertumbuhan sektor ekonomi yang tinggi dan sekaligus terjadi perubahan
masyarakat dan taraf hidup yang kurang baik menjadi lebih baik. Hal ini
terlihat dari peranan sektor pertanian terhadap penyediaan pangan, penyumbang
devisa negara melalui ekspor dan lain sebagainya (Soekartawi, 1994).
Salah satu tujuan utama pembangunan
pertanian tanaman pangan adalah swasembada pangan. Kebijaksanaan swasembada
pangan diperluas, tidak hanya bertumpu pada komoditas beras saja tetapi juga
pada komoditas lain yang mengandung karbohidrat, protein, mineral dan vitamin
seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan bunga-bungaan, seperti halnya komoditas
tomat (Soekartawi, 1994).
Buah tomat sebagai salah satu
komoditas sayuran mempunyai prospek pemasaran yang cerah. Hal ini dapat dilihat
dari banyaknya buah tomat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diantaranya
adalah sebagai sumber vitamin. Buah tomat sangat baik untuk mencegah dan
mengobati berbagai macam penyakit, seperti sariawan karena mengandung vitamin
C. Selain sebagai buah segar yang langsung dapat konsumsi, buah tomat juga
dapat digunakan sebagai bahan penyedap berbagai macam masakan seperti sop,
gado-gado, sambal, dan juga dapat dijadikan bahan industri untuk dikonsumsi
dalam bentuk olahan, misalnya untuk minuman sari buah tomat, es juice tomat,
dan konsentrat. Berbagai macam kegunaan tersebut dapat memberikan keuntungan,
baik bagi konsumen, produsen, maupun masyarakat pada umumnya.
Potensi pasar buah tomat juga dapat
dilihat dari segi harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
sehingga membuka peluang yang lebih besar terhadap serapan pasar
(Cahyono,1998).
Berdasarkan data dari Badan Pusat
Statistik Sulawesi Tenggara (2009), produksi tomat pada tahun 2011 sebanyak
3.009 ton dengan luas panen seluas 40 ha, sementara untuk Desa Lapandewa pada
tahun 2011 produksi tanaman tomat sebanyak 93,58 ton dengan luas panen
sekitar 10,56 ha.
Menurut (Soeharjo dan Patong 1994),
pada beberapa daerah di Indonesia, petani belum mampu mengambil keputusan
ekonomis yang menguntungkan. yang dimaksud adalah kemampuan petani dalam
menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor
produksi seefektif mungkin agar produksi pertaniannya memberikan fungsi yang
lebih baik dan lebih menguntungkan.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana budidaya tanaman tomat beef dan tomat
ceri secara hidroponik.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
Sistem hidroponik substrat merupakan
metode budidaya tanaman dimanaakar tanaman tumbuh pada media porous selain
tanah yang di aliri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh
air, nutrisi, dan oksigen secara cukup. Pemberian nutrisi pada tanaman dapat
diberikan melalui substrat yang akan diserap oleh akar tanaman. Larutan nutrisi
dibuat dengan cara melarutkan garam mineral kedalam air. Ketika dilarutkan
dalam air, garam mineral ini akan memisahkan diri menjadi ion.
Persyaratan dalam hidoponik substrat
yaitu media yang digunakan sebagai tempat tumbuh tanaman harus memiliki
kemampuan yang cukup untuk menahan air, kemampuan dalam menahan kelembaban yang
ada di sekitar akar, serta memiliki yang cukup untuk mencegah kegenangan air.
Adanya kegenangan pada media dapat merusak akar tanaman yang dibudidayakan
menjadi busuk dan akibatnya mati (Parksand Murray, 2011).
Penggunaan media tanam harus
diperhatikan dalam budidaya hidroponik, karena media tanam merupakan bahan yang
sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang akan di
budidayakan. Media yang digunakan pada budidaya hidroponik bermacam-macam mulai
dari bahan organik sampai dengan bahan anorganik. Penggunaan arang sekam dalam
budidya hidroponik memiliki kelebihan. Kelebihan dari arang sekam yaitu
bersifat steril, memiliki kemampuan membawa air, dan memiliki kemampuan dalam
hal hasil yang diperoleh dari tanaman hidroponik, yaitu hasil yang lebih baik
dan juga produk yang sehat. Hasil dari tanaman hidroponik juga memiliki
kualitas yang tinggi dan dapat ditanam tanpa melihat musim karena di tanam pada
green house (Silviana, dkk dalam Marlina, 2015).
Penggunaan media dengan memanfaatkan
media organik yaitu untuk menyeimbangkan nutrisi yang tersedia dari unsur hara
yang tersedia didalam air. Penggunaan media dengan menggunakan bahan organik
yaitu dapat menyediakan nutrisi tingkat tinggi. Media organik yang digunakan
jika telah kering, menunjukkan bahwa unsur hara yang tersedia diserap oleh
tanaman. 100% mineral yang diasumsikan dapat diambil oleh tanaman (Smith et
al Ferguson, 2014).
Media dalam penggunaan budidaya
hidroponik tidak hanya arang sekam melainkan cocopeat dan serbuk gergaji juga
dapat digunakan sebagai media tanam. Menfaat dari penggunaan media cocopeat ini
hampir sama dengan manfaat arang sekam. Perbedaannya terletak pada manfaat
hasil yang diperoleh. Kapasitas air yang ditahan oleh cocopeat dalam penggunan
media cukup tinggi. Cocopeat dapat mengikat dan menyimpan air dalam jumlah yang
besar dan kuat, karena cocopeat memiliki pori mikro yang mampu menghambat
gerakan air lebih besar yang bekerja didalam media (Istomo dan Valentino dalam
Irawan, 2015).
BAB III
PEMBAHASAN
Pertanian hidroponik tomat yang dikembangkan menggunakan sistem fertigasi atau irigasi tetes. Saat kami berkunjung ke kebun pak dedi sudah lewat panen. Total tanaman yang kami kunjungi ada 20.000 tanaman dengan total pegawai 10 orang. Penampung nutrisi yang digunakan untuk menyiram tanaman tomat terdiri dari 3 tendon air yang masing - masing berkapasitas 3000 liter. Dari 3000 liter in pak Dedi menambahkan 10 liter pekatan larutan A dan B.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Persyaratan dalam
hidoponik substrat yaitu media yang digunakan sebagai tempat tumbuh tanaman
harus memiliki kemampuan yang cukup untuk menahan air, kemampuan dalam menahan
kelembaban yang ada di sekitar akar, serta memiliki yang cukup untuk mencegah
kegenangan air. Adanya kegenangan pada media dapat merusak akar tanaman yang
dibudidayakan menjadi busuk dan akibatnya mati (Parksand Murray,
2011).
Penggunaan media tanam harus diperhatikan dalam budidaya hidroponik, karena
media tanam merupakan bahan yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan
perkembangan tanaman yang akan di budidayakan. Media yang digunakan pada
budidaya hidroponik bermacam-macam mulai dari bahan organik sampai dengan bahan
anorganik. Penggunaan arang sekam dalam budidya hidroponik memiliki kelebihan.
Kelebihan dari arang sekam yaitu bersifat steril, memiliki kemampuan membawa
air, dan memiliki kemampuan dalam hal hasil yang diperoleh dari tanaman
hidroponik, yaitu hasil yang lebih baik dan juga produk yang sehat. Hasil dari
tanaman hidroponik juga memiliki kualitas yang tinggi dan dapat ditanam tanpa
melihat musim karena di tanam pada green house (Silviana, dkk dalam Marlina,
2015).
Penggunaan media dengan memanfaatkan media organik yaitu untuk menyeimbangkan
nutrisi yang tersedia dari unsur hara yang tersedia didalam air. Penggunaan
media dengan menggunakan bahan organik yaitu dapat menyediakan nutrisi tingkat
tinggi. Media organik yang digunakan jika telah kering, menunjukkan bahwa unsur
hara yang tersedia diserap oleh tanaman. 100% mineral yang diasumsikan dapat
diambil oleh tanaman (Smith et al Ferguson, 2014).


Oke...
BalasHapusthank you ya...